Jumat, 04 Juni 2010

Buku pesta dan Cinta (bag 1)

Mahasiswa, Buku, Pesta dan Cinta

Universitas Indonesia, Universitas kami
Ibukota negara, pusat ilmu budaya bangsa
Kami Mahasiswa, perlambang cita
Kejar budi pekerti luhur, tuk nusa dan bangsa

Buku, pesta dan cinta
Sadar bertugas mulia, mahasiswa… (Genderang UI tahun 1960-an)


Memaknai apakah tugas mahasiswa di zaman postmodern ini seperti melihat sebuah ironi. Mahasiswa dihadapkan pada sebuah proses pengajaran yang bersifat (dikatakan) modern. Modern dengan pengajaran bersifat dua arah, penyelesaian masalah, dan susah payah. Mahasiswa di hadapkan pada sebuah pintu yang hanya bisa dibuka jika hanya lulus dengan memperoleh hasil nilai yang baik, dalam angka tentunya.

Bagaimana dengan gerakan mahasiswa? Matikah? Bagaimana orang-orang disana yang dikatakan sebagai pelaksana keinginan mahasiswa. Badan yang berasal dari mahasiswa, oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa itu menaggapi sebuah gerakan atau minimal system pengajaran yang didapatkan. Mumpunikah mereka sehingga pantas dianggap sebagai pelaksana nafsu mahasiswa? Semahasiswa apakah mereka?

Mahasiswa, selalu diidentikan dengan tiga hal yang dikatakan keren. Intelektual, kedinamisan, dan pengabdian. Benarkah? Coba kita telusuri. Tanya pada seorang mahasiswa lama. Apa tujuan dia kuliah. Lalu tanya pada seorangmahasiswa baru yang masih “planga-plongo” terhadap universitas. Jawaban kedua jenis mahasiswa itu akan sama. Yaitu untuk mendapatkan pekerjaan, hidup dengan layak, lalu menikah, punya anak, dan semakin memenuhi Indonesia. Intelektualitas, itu ketika kuliah. Dinamis ketika sedang mencari pekerjaan, dan pengabdian masyarakat kalo ebetulan dapet bagian pekerjaan di bidang itu. Lalu kemanakah yang tiga awal disebutkan dalam paragraph ini. Hilang.

Buku, Pesta, Cinta.
Tiga buah kata yang muncul pada lagu Genderang UI itu sudah lama dihilangkan. Belum jelas apa maksud dihilangkannya. Mungkin tujuannya ingin menciptakan suasana kampus yang tidak hura-hura tapi akademis sehingga mudah dijadikan robot-robot untuk mengisi setiap lowongan kerja yang ada.

Buku, Pesta, dan Cinta memberikan sebuah makan ke-anak mudaan yang sesungguhnya. Buku pesta dan cinta selalu menjadi ciri khas dari pemuda-pemuda cerdas. Kok bisa seperti itu? Padahal sekilas, ketiga kata itu hanya menunjukan sebuah kata-kata yang sedang hangat-hangatnya dipopulerkan para orang tua, yaitu hedon atau pergaulan bebas. Sebuah statement tak beralasan.

Mari kita rekonstruksi lagi ketiga kata itu. Buku, menyatakan sebuah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan didapatkan dari sebuah proses berpikir. Berpikir membutuhkan dua hal inti. Sumber ilmu pengetahuan dan alur berpikir logis. Dua hal inipun tidak terpisah, melainkan “hasil dari”. Alur berpikir logis kita dapatkan dari proses mempelajari sumber pengetahuan yang ada. Sumber pengetahuan ini memiliki dua syarat, yaitu harus memiliki tesis dan antitesis. Buku menyediakan itu semua, menyediakan makanan bagi laparnya sifat kritis kita. Syarat utama dalam mencari ilmu pengetahuan dari buku, bukanlah hanya membaca satu buah buku saja, atau membaca buku dengan sudut pandang yang sama. Hal ini karena jika kita melihat dari satu sisi saja, kita akan terjebak dalam pandangan dalam kotak. Kita tidak akan bisa menghasilkan sebuah sintesis dari apa yang kita gali. Tugas otak kita bukanlah menampung, melainkan berpikir. Sintesis akan dihasilkan bila melalui alur berpikir ogis yang tepat, alur berpikir empiris dan realistis. Sintesis yang kita hasilkan akan menghasilkan tesis baru yang akan terus diperdebatkan, itulah mengapa ilmu pengetahuan bersifat dinamis. Syarat lainnya adalah jika kita sedang mempelajari sebuah hal, kita harus menganggap bahwa kita adalah subjek sedang mempelajari sebuah objek apapun itu, dan harus menghilangkan rasa sentimen terhadap gagasan sang penulis yang biasanya dilatar belakangi oleh sentimen agama, suku dan ras.

(continue)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar